|
|
 |
 |
Saturday, September 18, 2004
MNEMONIC
: DeA
Kata Sapardi, gerimis itu hanya bersijingkat dengan kaki-
kakinya yang kadang hilang kadang tampak. Dan ku pikir gerimis itu
juga halus. Ya, memang gerimis tidak sama dengan hujan. Tetapi baru
rasanya, ada orang yang membenci hujan. Toh, jika di bumi itu banjir
rasanya itu bukan kehendak hujan. Ia hanya menjatuhkan bulir-bulir
kesegaran dari langit yang teduh itu, ke bumi ini. Dan kamu pun pasti
tau bagaimana rasanya hidup di bumi ini.
Orang memanggilmu bunga matahari, karena kamu membenci hujan.
Jika kamu mau lihat lebih dekat lagi sebetulnya hujan dan matahari
adalah sepasang kekasih, rasa-rasanya ini juga kata Sapardi. Nah,
jika mereka adalah sepasang kekasih berarti, kamu tidak bisa
mencintai matahari tanpa mencintai hujan. Itu tidak seimbang!
Bukankah hidup adalah pencarian untuk sebuah keseimbangan?
Seperti aku mencintai langit, maka aku pun mencintai awan dan
juga warna-warna senja. Ketika ku katakan pada bintang aku cinta dia,
maka aku pun akan menyayangi bulan. Sama seperti hitam mencintai
putih, kurasa kamu juga harus mencintai hujan.
Ketika ku memintamu untuk datang ke rumah ku waktu itu,
kamu menjawab, "sedang hujan, aku tak mau keluar!" Tentu dengan
ketus. Dan aku sudah paham, makanya tidak mau berdebat denganmu.
Namun setelah kupikir, sikapmu itu tidaklah beres, aku tak
mengatakan itu tak adil. Karena rasanya sangat sulit menemukan
keadilan di dunia ini. Bahkan datang dan pergi pun sering saling tak
adil. Ya, itu hanya sebuah sikap yang tidak beres. Lalu, kutulis saja
surat ini, mudah-mudahan bisa membereskan sikapmu yang tidak beres
itu. Supaya kamu juga bisa bersikap seimbang.
Jika alasan kamu membenci hujan hanya karena takut basah,
maka yang harus disalahkan itu adalah kamu sendiri. Coba bayangkan
kesedihan hujan yang sering disalahkan karena membuat basah manusia.
Bahkan sering dicaci maki. Sebetulnya jika manusia mau mengerti, ya
kalau sudah tau hujan itu air, maka harus siap dong dengan segala
konsekuensinya. Termasuk kebasahan. Nah, sekarang kamu bisa pikirkan,
jika hujan punya perasaan maka ia akan sedih sekali, bukan?
Pernah kamu mendengarkan hujan? Belum! Rasanya akan lebih
sangat tidak beres kalau kamu membenci hujan. Jika kamu hadir dengan
telinga yang mendengar, hujan itu menceritakan sebuah rahasia.
Rahasia yang ia simpan untuk pucuk pohon dan dedaunan. Aku tau ini
dari Agus N. Rasanya sesuatu yang belum teruji tidak layak untuk
dipercayai. Maka kucoba saja dengarkan hujan. Ternyata benar! Ia
tidak mau membagi rahasianya denganku. Ia hanya membisu, tetapi
ketika aku akan pergi, sayup-sayup kudengar ia bercerita pada pucuk
pohon dan dedaunan. Tentunya tentang sebuah rahasia.
Hujan itu lembut, sayup. Seperti mata kamu. Hujan itu memberi
kesegaran, seperti senyummu, yang dibalut bibir yang lembut itu. Dan
hujan menjadi indah karena untaian butir-butirnya yang serempak
menjatuhkan diri ke bumi, seperti untaian kata-katamu yang mempesona
diriku. Sedangkan rambutmu yang terurai itu mengingatkan ku pada
pesona jatuh lurus butir hujan. Kamu lihat kan betapa keindahanmu
menyerupai keindahan hujan.
Coba kamu pikirkan lagi sikapmu ini. Jadikan saja surat ini
sebagai bahan renungan atau sebuah saran, tetapi jangan dijadikan
bungkus gorengan, yang sering kamu beli setiap sore itu.
Sudah segitu saja, kamu baca saja dulu. Nanti kabari aku
lagi, ya!
***
Tidak! Hujan tidak menceritakan sebuah rahasia apa pun. Dia
hanya menangis. Itu saja. Dan pucuk pohon yang katamu mendengarkan
rahasia itu, dia hanya gelisah. Betul pohon itu mendengarkan, tetapi
bukan sebuah rahasia. Hanya percakapan antara awan dan tetesan hujan.
Percakapan tentang sebuah perpisahan yang memilukan. Itulah sebabnya
aku membenci hujan. Ia hanya segumpal kesedihan yang tak tertahankan.
Yang kebetulan jatuh ke bumi.
Jika kamu menyangka desah yang kamu dengar itu sebagai sebuah
rahasia, maka itu adalah sebuah kekeliruan. Seperti sebuah lagu
tersedih yang kamu dengarkan setiap malam, sambil memandangi langit
yang bertabur bintang. Itulah kesedihan yang hujan rasakan. Terlalu
sering aku mendengarkan hujan. Dan setiap kudengarkan desahnya yang
lirih itu, aku menangis. Dan kemudian kami bersama-sama menangis.
Mengisi hati yang luka dengan tetes-tetes air mata.
Dan aku melarikan diri dari kesedihan itu bersama matahari,
bersama riak sinarnya yang terang, yang menyilaukan. Tak terdengar
lagi suara-suaru tangis itu. Hanya tawa kami, aku dan matahari yang
memenuhi ruang waktu. Mungkin kami sepasang kekasih atau hanya teman
baik. Aku tak begitu peduli. Chemistry itu hadir setiap kami bertemu.
Dan aku percaya cinta sejati itu, berawal dari sebuah chemistry.
Seperti aku dan kamu. Dulu.
Matahari dan hujan pun bukanlah sepasang kekasih lagi. Mereka
telah lama berpisah. Dan percakapan sedih antara awan dan hujan
adalah bukti kisah cinta sejati, bukan seperti waktu dia dan matahari
bersama.
Sudah sering kukatakan kepadamu, antara kita tak ada lagi
tanda-tanda seperti yang kudapatkan dari matahari. Saat kita telah
berlalu. Dan gambar dirimu pun sudah tak terlukis lagi dalam guratan
senja. Dan kamu tahu bukan betapa aku begitu mengagumi senja lebih
dari apapun. Disana terdapat tanda-tanda yang dapat meyakinkan aku
akan suatu kepastian. Dan kini wajahmu telah pudar, bersama dengan
berakhirnya warna kemilau jingga yang terciprat di ujung sebelah
timur sana.
Sudah sering kubisikkan padamu, sama seperti kisah perpisahan
yang memilukan antara awan dan tetesan hujan. Seperti itulah. Dan
kini semua terceritakan melalui hujan. Itulah kenangan terakhir
diriku untukmu.
Waktu kita telah berlalu.
***
NB:tentang untuk siapa cerpen ini gak boleh ada yang protes, dilarang
keras!!!
Posted at 05:46 am by sangdenai
Permalink
DARE TO BE THE SAME
“Bajunya baru selesai..ee..kembaran sama Samuel,” ujar almarhum Indra Safera pada suatu waktu. Dalam suatu fashion show, Indra mengenakan kemeja hitam berukir bunga-bunga, yang SAMA PERSIS dengan yang dikenakan perancang kenamaan, Samuel Wattimena.
Not surprising sih, kalo mereka MEMANG beli di butik Sebastian Gunawan yang sama. Tapi, coba deh, pernah nggak sih kamu mengalami kejadian serupa?
Waktu anak-anak Komunikasi (dengan noraknya) pake kaos Communication UI, anak-anak yang menolak untuk jadi kembar massal mengejek “Kaya anak panti asuhan!” Saya (waktu itu) tidak mengenakan kaus yang sama. Tapi ketimbang mengejek, saya justru berpikir, kenapa kita BEGITU terobsesi untuk berbeda?
Setiap kali saya menemani teman saya belanja ke mal, saya selalu mendengar komentar-komentar seperti: “Nggak ah, si A kan pake tas ini” , “Lucu sih, tapi si B kemarin baru beli sepatu persis kaya gini”, “Aduh, padahal gue pingin banget BANDO ini, tapi seinget gue, si C punya juga di rumahnya. Nanti gue dibilang ngikutin lagi..”
Kita TAKUT dibilang pengekor. Kita TAKUT menjadi sama.
Kenapa?
Mungkin, karena SAMA artinya adalah massal dan produksi massal sering diartikan murahan. Dan kita tahu, murahan sering diartikan dengan selera kebanyakan. Pasaran.
Padahal ya, berapa banyak produsen tas, sepatu, ataupun bando, yang TIDAK menggunakan prinsip massal? Bahkan label “limited edition” itu juga berarti 150 orang lainnya mengenakan jeans Levi’s Red Loop yang kamu punya.
Yang berbeda itu TIDAK biasa.
Yang terbatas itu INDAH (meski saya nggak habis pikir, betapa orang BISA membuang Rp. 700.000 untuk sehelai jeans dengan EFEK lecek (yang katanya) ala Issey Miyake. Maksud saya, siapa yang peduli lecek di jeans lo itu ala Issey Miyake, atau belum dicuci sekalipun? Well, selain Levi Strauss, TENTUNYA)
Jadi, SANGATLAH TIDAK MUNGKIN, untuk berpenampilan beda. Bahkan Indra dan Samuel yang beli baju keluaran butik (dengan logika limited edition), kok ya ndelalah bisa kembaran juga.
Karena harapan setiap produsen adalah maksimalisasi hasil (ingat prinsip ekonomi? Ini bisnis, Man!). Dan setiap desainer PASTI juga ingin bajunya dipakai oleh SEBANYAK mungkin orang (yeah, kan nggak semua orang bisa punya setelan Chanel).
Jadi, bagaimana cara MENYIASATI pertentangan dua keinginan ini?
Saya menyebutnya, trik industri.
Pernah lihat baju berpotongan sama, dalam tiga warna berbeda?
Atau kemeja berpotongan dan warna sama, tapi dengan corak berbeda?
Inilah hebatnya industri. Warna, corak, detil (misalnya pita, ada yang letaknya di kiri, kanan, atau tengah), renda (ada yang versi satu, double, triple), kancing dan kerah. Coba lihat, bahkan tujuan merekapun TETAP pembeli SEBANYAK-BANYAKnya KAN?
Dan kita yang tersihir, bisa-bisanya bilang “Gapapa deh, tas si A kan warna hitam, yang ini kan biru tua” (padahal, BERAPA JAUH sih perbedaan warna antara HITAM dan BIRU TUA?)
ATAU, jadilah seorang Titi DJ. Dia boleh bangga, karena punya gipsy pants keluaran Dior dengan detil bordir dan tempelan kaca yang HANYA ADA SATU di Asia Tenggara. Sekali lagi, HANYA ADA SATU, di SELURUH Asia Tenggara. Nggak sia-sia deh, dia jauh-jauh pergi ke Singapura.
Anyway, karena Titi DJ cuma diciptakan satu oleh Tuhan (Tuhan PASTI BUKAN mesin industri. Karena Dia menciptakan setiap hal sebagai keajaiban yang unik), maka INTI dari tulisan nggak penting ini adalah: JANGAN MALU MENJADI SAMA.
Posted at 05:40 am by sangdenai
Permalink
Resensi film(pinjeman bukan film sendiri)
Children of Heaven
tess...tess..tess...
Tak terasa air mata saya berkali-kali jatuh untuk kesekian kalinya. Berkali-kali pula rasa emosional saya tertarik dalam pusaran arus besar plot film yang disajikan dengan hebat. Puji sukur dan salut untuk tuan sutradara atas kerja keras dalam menghadirkan film ini.
Saya memang baru saja menonton film ini dibandingkan, mungkin Anda atau kehadiran pertama film ini di Indonesia. Meskipun baru saja menontonnya, saya merasa film ini dibuat pada masa sekarang, atau mungkin baru dua hari yang lalu film ini dibuat. Entahlah, saya merasa bahwa film ini bukan film dua-tiga tahun yang lalu, tetapi film yang dibuat pada masa sekarang, atau mungkin alur film ini telah meng-indoktrinasi saya untuk mengakui bahwa film ini adalah film abadi yang harus diakui kehebatannya sepanjang waktu.
kurang ajar...tetapi....... saya tidak mampu menolaknya
Sebagaimana (mungkin) Anda ketahui, film ini menceritakan tentang kehidupan dua orang kakak beradik(Ali dan Zahra)dalam keluarga miskin yang bekerja serabutan(pekerja informal) dan tinggal di pinggiran kota. Tema cerita mulai mengarah, ketika sepatu sang adik(Zahra)dihilangkan oleh abangnya(Ali). Hilangnya sepatu sang adik segera memposisikan sepatu sang kakak(Ali)berperan ganda. Pagi hari mengantar sang adik(Zahra)ke sekolah dengan segala ritual pendidikanya dan siang hari mengantar sang kakak(Ali)ke sekolah dengan ritual yang sama. Jadi sepasang sepatu dipakai berdua, antara sang adik dan sang kakak. Dalam film diperlihatkan adegan-adegan ketika sang adik berlari-lari sekuat tenaga ke sebuah lorong yang dihiasi selokan)dan sang kakak telah menunggunya, untuk kemudian dipakai oleh sang kakak menuju sekolahnya dengan berlari-lari.
Keharuan dalam adegan film ini juga diperlihatkan ketika sepatu yang dipakai oleh Zahra pada saat sedang berlari terjatuh ke selokan, dan tangisanya hanya menjadi satu pertanda kesedihan yang mendorong seorang pemilik toko membantunya untuk mengeluarkan sepatunya dari dalam selokan. Keharuan lain diperlihatkan ketika Ali menemani sang Ayah ke kota(dengan sepeda jengki butut) untuk mencari uang dengan menjual jasa sebagai tukang kebun di pemukiman mewah warga Iran. Sepulang menjual jasa sebagai tukang kebun, sang Ayah bermimpi untuk membahagiakan keluarganya. Membelikan sang istri tercinta dengan seterika listrik. Membahagiakan dirinya dengan membeli televisi, kulkas, lemari dan sepeda motor. Membahagiakan anaknya dengan membelikan sepatu baru. Tetapi keberuntungan hanya kenikmatan hormon sesaat, untuk kemudian harapan tinggal kenangan, keduanya mengalami kecelakaan sepeda.
Adegan haru yang menonjol lainya juga diperlihatkan ketika sang kakak mengikuti kejuaraan maraton 4 kilometer demi mendapatkan sepasang sepatu olahraga(sebagai hadiah juara ke-3) yang nantinya akan ditukarkan dengan sepasang sepatu wanita untuk sang adik. Toh nyatanya Ali mendapatkan juara pertama, dan sepatu hanya tinggal kenangan untuk kemudian menutup drama kesedihan adik-kakak yang berlarut-larut. Film pun diakhiri
Sekilas Komentar
Meskipun film ini bercerita tentang konteks sesuatu, metafor yang dihadirkan dalam film ini berkembang ke banyak arah. Mungkin kehilangan sepatu dalam “Children of Heaven” berperan sebagai simbol yang mewakili kesedihan anak-anak (dari keluarga miskin) Iran lainya akan dunia bermain yang biasanya dialami oleh anak-anak dari keluarga menengah atau keluarga menengah dari negara dunia maju.
Film ini juga memperlihatkan bagaimana sebuah keluarga ber-resistensi terhadap problematika hidup yang berkembang. Memperlihatkan bagaimana setiap anggota kelurga menempatkan sikapnya ketika sebuah konteks masalah menghampiri keluarganya. Pun menempatkan posisi perasaan anak yang sebenarnya telah menunjukkan kematangan bersikap tetapi selama ini tertutup lewat metafor arogansi orang tua yang terkadang merasa lebih benar dalam berpendapat dibandingkan anaknya.
Film ini bagi saya juga memperlihatkan bahwa konteks indifidu seorang anak, bukanlah sebuah wacana sederhana. Film ini memperlihatkan bahwa hanya dari sebuah perkataan “sepatu saya basah karena terjatuh di selokan”(Perkataan Ali ketika mendapatkan pertanyaan gurunya “Mengapa sebelah sepatunya basah?”) ternyata mengandung jawaban cerita yang sangat panjang sebagaimana yang digambarkan oleh Majid Majidi dalam filmnya ini.
Cara pandang anak, memiliki cerita panjang yang biasanya hanya ada dalam ingatan dan tampak dalam manifestasi sikap(baik diekspresikan secara nyata maupun tidak). Perlakuan terhadap anak secara sengaja dalam konteks apapun yang mengintervensi hidupnya biasanya membuat sebuah pola hidup, sikap serta cerita anak berbeda dengan anak-anak lainya dalam ruang, waktu dan perlakuan yang berbeda. Jika dikatakan bahwa film ini sangat berbeda dengan gaya film mengenai anak dari negara lain(misalnya AS dengan Hollywoodnya)tentu saja sangat berbeda. Saya tidak sepenuhnya yakin, bahwa dunia anak yang seharusnya adalah dunia bermain dengan fasilitas memadai yang memacu perkembanganya, dan mengisolasi dari orang tua yang hidupnya dianggap menyakiti dan menyengsarakan anak.
Pada taraf menghentikan kekerasan anak, saya setuju pada isu ini. Tetapi menempatkan anak pada sebuah tempat yang menjauhkan dari lingkungan tempat asalnya, adalah sebuah kenaifan dalam membentuk sejarah dan sikap anak. Anak tidak perlu kita lihat sebelah mata dalam melihat kekerasan, sebab anak adalah sosok yang (sebenarnya)mampu memberikan penilaian mengenai realitas yang dilihatnya, memberikan pertimbangan sebagai jalan yang akan membentuk sikapnya menuju sebuah kedewasaan.
Dan ketika anak tidak memiliki kesempatan dan ruang, maka drama akhir film “Children of Heaven” hanya menempatkan “Ali” dalam lingkaran ikan mas yang menemaninya, menemani kakinya yang membusuk. Lingkaran ikan mas sebagai satu rantai lingkar alam yang memberikan penghargaan kepada “sang Ali” (dengan membersihkan kakinya yang membusuk di kolam)karena usahanya, penghargaan atas kecintaan Ali terhadap adiknya dan kecintaan Ali terhadap keluarganya.
Bandung, 3 Juni 2004
Posted at 05:38 am by sangdenai
Permalink
AFAN SELASA KEMARIN
“Halo, Tri. Gue mau bunuh diri.”
Itu salam pembukaannya lewat telepon yang aku terima Selasa kemarin. Aku diam sebentar. Menata mood di tengah tontonan film komedi Ben Stiler yang masih terputar di televisi di depanku. Mencoba meraba-raba remote control yang terletak di seberang sofa dengan kakiku. Mengecilkan volumenya. Alisku tiba-tiba gatal.
“Kenapa, Fan?” aku masih mencoba melirik layar televisi dan menahan senyum melihat adegan konyol Ben Stiler dan Luke Wilson bersaing di atas catwalk. Haiya, model laki-laki!
“Skripsi gue ilang,” jawaban lemah di seberang terdengar.
Afan. Mahasiswa penghabisan yang lebih suka mengurus anak jalanan daripada masuk kuliah dan bikin ulah dengan protes kerasnya pada birokrasi kampus, kini bilang mau bunuh diri karena skirpsinya hilang.
Tak tahu harus berkomentar apa.
“Lebih parah. Komputerku dimakan macros. Hardisk-nya jebol. Termasuk backup di disket. Kena infeksi semua.”
Aku tercekat. Mungkin antara mendengar keterangannya atau melihat tampang perdana menteri Malaysia yang diparodikan di film itu. Ah, Afan tak mungkin seserius itu. Seperti halnya apa yang dia bilang pertama tadi. Terakhir, dia pernah janji melempari mobil orang yang dianggap merebut ceweknya dengan telur busuk—untung tak pernah dilakukannya. (aneh kan?) Kemarinnya lagi dia pernah mengutarakan niatnya untuk jadi pelayan toko mainan di Mall Depok. Sekedar menabung untuk beli Nikkon second. Malah ia sempat bersumpah membunuh kucing ibu kos yang sering kencing di depan kamarnya. Yang paling parah—dan menjadi sumber ketidakpercayaanku pada makhluk satu itu—janjinya untuk mentraktirku bolo-bolo tak ditepatinya, saat aku sedang puasa. Jadilah seharian aku tak makan hari itu.
Sekarang dia bilang mau bunuh diri. Siapa percaya? Yah, masalahnya aku tahu betul sih bagaimana skripsi itu benar-benar merusak hidupnya. Sudah kelimpungan ngumpulin data, sempat dituduh plagiat, bikin bete pembimbing sendiri, dan akhirnya membuat kampus geger dengan protes kerasnya di jurusan.
Pfiuh, tahun ini adalah tahun sekaligus kesempatan terakhirnya mengajukan skripsi. Kalau tidak, tanpa kompromi dia akan terdepak dari statusnya sebagai mahasiswa abadi.
“Gue mau pamitan,” suaranya yang pelan terkesan dalam dan serius. Lagi-lagi alisku tiba-tiba gatal sendiri.
“Pamitan apaan?” tanyaku pura-pura bodoh.
Helaan nafas di seberang,”yah, lo pikir sendiri.”
Aku sering heran kenapa makhluk yang lebih tua dariku ini benar-benar kompleks ngawurnya, “Bunuh diri maksud lo?” biar seenak perutku saja, “pake apa? Dimana?” kulihat sejumlah model cowok di film yang sejak tadi masih berputar di depanku melakukan hal-hal konyol.
“Di mana ya?” helaan nafas lebih berat, “gue juga nggak tahu.”
“Caranya?”
Terdengar bunyi antara tawa dan dengusan hidung, “Belum kepikiran. Ada ide?”
Aku mencoba mengingat-ingat beberapa hal. Ben Stiler dan seorang reporter wanita mencoba lari dari orang-orang suruhan musuhnya. Berkejar-kejaran di sepanjang gang sempit sambil dar-der-dor-an.
“Mau bunuh diri di kamar? Pakai pisau atau silet gitu? Nggak mungkin. Barang begituan cuman ada di kamar gue. Yeah, kecuali elo mau minjem ibu kos. Pake tali atau kawat? Kelamaan. Mau terjun dari lantai dua kamar lu? Nggak deh, bakal kelihatan tragis buat orang apalagi kalau sampai ‘pala lu doang yang benjol,” dia tertawa lemah di seberang sana. Dan bagiku itu suatu kemajuan. Meskipun aku bosan harus menghiburnya dengan cara seperti itu.
Aku ingin berkonsentrasi dengan Zoolander. Di depanku Ben Stiler mulai jatuh cinta dengan si reporter.
Diam menyita waktu.
“Tri.”
“Di danau asrama boleh juga tuh,” potongku. Ada nada-nada pasrah nan bodoh di sana. “Tahu kan? Tempat bikin hantu tuh. Sering buat bunuh diri dan buang mayat,” tandasku sekenanya. Orang satu itu tak bisa diajak bercanda lagi rupanya. Padahal kalau lagi normal ia pasti sudah melantur dengan ide-ide bunuh diri yang lebih gila.
Dengusan kecil lagi.
Tiba-tiba adegan bercinta antara Ben Stiler dan reporter itu mulai. Cepat kuraih remote control. Pause!
“Makasih ya,… jadi temen gue selama ini…,” menelan ludah, “maafin kalo gue sering ngrepotin elo dengan masalah-masalah gue.”
Kalau sudah begini baru ketauan jawa-nya dia. Ya, ampun, makhluk bodoh ini benar-benar punya niat buat bunuh diri.
“Otak elo isinya apaan sih?! Mayonese?” aku tak tahan juga akhirnya.
“Gue udah nggak ngerti mesti gimana lagi,” ia berdehem menghilangkan suara seraknya, “ini kesempatan terakhir, tinggal maju, terus dibenerin dikit, dijilid. Orang servis udah nyerah,” dengusan lagi, “Gue bilang kenyataannya pun orang jurusan gak bakalan percaya.”
“Gue capek, Tri.”
Seolah sebagian beban beratnya dipindahkan ke punggungku. Aku bisa merasakan bagaimana lemasnya ia saat ini. Tuduhan plagiat yang diberikan padanya menjadi semacam klimaks dari seluruh cap buruk yang menempel di keningnya.
“Masih banyak cara lainkan?” kuputuskan untuk tak peduli, pikiran waras mesti sampai ke otaknya. “gimana ceritanya elo emang mesti ngomong ke jurusan! Ada banyak saksinya kan, gue, misalnya, yang bakal mati-matian bilang elo bukan plagiat dan komputer elo asli brengsek, atau apalah.. minta himpunan demo jurusan. Whatever. Yang jelas ada usaha selain pikiran goblok itu!” teriakku sampai puas.
Masih juga dengusan kecil yang terdengar. “Sudahlah, yang penting gue udah minta maaf.”
“Apa-apaan, elo masih punya utang bolo-bolo ke gue!”
Aku tak ingat siapa yang menutup telepon duluan. Yang jelas setelah itu, aku sibuk menggerutui VCD yang mati sendiri karena terlalu lama di-pause. Bisa jadi menggerutui Afan juga. Ah, dia toh belum tentu berbuat apa-apa. Aktivis nyinyir yang banyak omong itu….
Itu sepenggar pembicaraan dengan Afan di telepon Selasa kemarin. Setelah itu aku coba telepon kos, tapi dia tak ada. Besoknya, kata Ibu kos dia belum pulang. Besoknya, masih belum ada kabar. Jadilah hari ini aku kembali ke Jakarta dengan kereta malam. Sambil tak ingin berspekulasi sedikitpun tentang keberadaannya.
Sesampainya di depan kamar Afan tak kulihat tanda apa-apa kecuali bau kencing kucing ibu kos, tapi tetap kugedor. “Whoi, kampret, pulang!!”
Sudut mataku melihat ibu kost yang selalu memakai daster, menyadari kehadiranku di ujung ruangan sana. Seolah ia bersiap menyambut kedatanganku. Pasti masalah tunggakan dua bulan uang kos. Serta merta pura-pura tak melihatnya,aku berjalan ke arah kamarku.
Kuambil kunci yang selalu kuselipkan di lubang angin pintu. Kudorong pintu yang agk susah dibuka itu. Begitu kulihat di dalamnya, sosok menyebalkan yang sudah menjadi beban pikiranku seminggu belakangan ini asyik nangkring di atas kasur. Dia menoleh ke arahku allu melempar sebuah cengiran kambing. Alis matanya menunjuk sekotak bolo-bolo di atas meja.
“Anjing lu, males bersihin kencingan kucing?!” makiku setengah mati keras tak peduli kehadiran ibu kos yang semakin mendekat.
“Iya, Bu?”
“Mas Tri sudah tahu?” ibu kosku yang selalu memakai daster itu bertanya santun seperti biasa.
“Sip, Bu. Besok langsung tiga bulan lunas,” tandasku mantap sambil meyakinkan dengan senyum lebar.
Ibu kos tampak murung, “Begini mas Tri,” seperti berpikir keras, “ini tentang Afan…,” masih kulihat dalam kamarku, ia sedang senyam-senyum sambil memegang Ibanez tuaku. Dalam hati berjanji setidaknya mesti dibikin hancur hidungnya sudah bikin aku deg-degan. Kutatap lagi ibu kosku yang suka memakai daster itu.
“Dia meninggal. Ditemukan di dekat danau asrama. Pagi-pagi. Dua hari yang lalu…” ibu kosku tak kuasa menahan air matanya. Aku bingung. Kernyitan di dahi sepertinya bertambah banyak. Bahkan sampai dia mengelus punggungku sambil mengatakan, “sabar ya nak, sabar,” pun aku masih mencoba mencerna kata-katanya perlahan. Melihat lagi orang yang saat ini tengah mengelus-elus gitar kesayanganku. Tersenyum nyengir. Di atas meja belajarku, kuperhatikan beberapa belatung keluar dari sekotak bolo-bolo. Aku tertegun. Lama.
[konsumsi penpop juga, inspired by Afan’s thesis]
Posted at 05:28 am by sangdenai
Permalink
Jepit untuk Mama
Sebentar lagi ulang tahun mama. Sejak lama Naila sudah tahu apa hadiah ulangtahun untuk mama. Malah, Naila khusus pilihkan hadiah itu hanya untuk mama.
Jangan bilang siapa – siapa, ya, tapi mama punya kotak harta karun. Setiap pagi, dibukanya kotak itu, dikeluarkan salah satu isinya, lalu ditutup. Dan saat pulang kantor, mama akan buka kotak itu lagi untuk kemudian ditutupnya rapat – rapat.
Mau tau isinya ? Di dalam kotak tersimpan bermacam – macam jepit cantik. Iya, jepit yang suka dipakai untuk rambut itu, lho... Rambut Mama kan panjang, jadi kalau di rumah sering dikepang dan dijadikan gelung kecil. Tapi kalau ke kantor, Mama selalu memakai kerudung untuk menutupi rambut panjangnya. Kerudungnya warna warni. Nah, disela - sela kerudung itulah Mama selalu menyelipkan jepit cantik yang tiap pagi diambil dari kotak harta karun.
Pertama kali Naila melihat jepit hadiah untuk Mama, benda itu tersimpan rapi di dalam lemari kaca di supermarket dekat sekolah Naila. Waktu itu Pak Maman berhalangan menjemput Naila dari sekolah dan mama yang menggantikan. Dari sekolah, mama mengajaknya pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan prakarya untuk tugas keterampilan esok harinya.
Jepit itu berbentuk persegi empat sebesar jari tangan Naila. Ada banyak batu – batuan besar dan kecil bertaburan diatas jepit. Warnanya biru jernih seperti laut diseling batu kecil warna kuning emas. Waktu kena cahaya lampu, ada warna warni seperti pelangi keluar dari batu – batu itu.
Mama meminta Mbak penjaga lemari kaca untuk mengeluarkan jepit.
“Wow”, seru Naila sambil menahan napas. “Bagus sekali, Ma”, lanjutnya takjub.
“Iya”, Mama mengangguk sambil tersenyum. Tapi kemudian senyum Mama mulai hilang saat dia membalik jepit itu. Ada label harga menempel disana. .
“Terimakasih Mbak, saya lihat – lihat dulu. Insya Allah kapan – kapan saya kesini lagi”, begitu kata Mama sambil mengembalikan jepit. Dan Mama tidak pernah kembali ke sana sejak saat itu.
Hmm...Naila sempat mengintip harganya. Lima belas ribu untuk membeli sebuah jepit memang bukan uang sedikit. Apalagi Mama selalu bilang, kalau ada uang lebih, sebaiknya ditabung untuk membeli keperluan sekolah. Tapi Naila ingin sekali melihat Mama memakai jepit itu disela - sela kerudungnya. Pasti Mama akan tampak sangat cantik. Jauh lebih cantik dari mamanya Doni yang sering menunggui Doni di sekolah.
Naila bingung memikirkan darimana dia harus mendapatkan uang sebanyak itu. Minta mama, jelas nggak mungkin. Pasti mama akan bertanya untuk apa uang itu. Dan Naila nggak mau berbohong. Minta Ayah... uih..Ayah pasti akan langsung ngomong ke mama.
Setelah pikir – pikir, akhirnya Naila menemukan cara bagus. Dia akan puasa jajan di kantin Bu Rohmah . Jadi uang jajannya utuh dan bisa ditabung untuk membeli jepit. Sebagai gantinya, Naila akan membawa bekal roti dan jus jeruk dari rumah untuk dimakan saat istirahat. Memang sedikit repot, tapi demi jepit hadiah ulang tahun mama, Naila harus bisa tahan godaan jajan.
****
Dua minggu berlalu sejak Naila bertekad tidak jajan. Sekarang, usahanya membawa hasil. Ada uang sebesar tujuhbelas ribu terkumpul di saku tas sekolahnya. Pulang sekolah nanti, Naila akan minta tolong Pak Maman, sopir antar jemputnya, menemaninya pergi ke supermarket.
Dengan langkah ringan Naila langsung menuju ke lemari kaca tempat jepit idamannya disimpan. Dari jauh, senyum Mbak penjaga lemar kaca itu langsung terkembang, dan dengan sigap dia sudah berada di samping Naila untuk membantunya mengambilkan sesuatu.
Naila melihat isi seluruh lemari kaca itu. Hmmm...kok tidak ada....Diulanginya sekali lagi untuk sekedar meyakinkan kalau matanya tidak salah melihat.
“Mbak, saya mau beli jepit rambut yang di atasnya ada batu – batuan warna biru. Dulu ada disini. Kok sekarang nggak ada ?” tanya Naila sambil menunjuk ke pojok kiri bawah.
“Oh, jepit itu sudah dibeli orang, Dik,.” jawab penjaga lemari sambil melihat ke arah yang ditunjuk Naila.”Jepit itu memang banyak dicari orang,batu-batuannya cantik sekali,” lanjutnya lagi.
Deggg....jantung Naila serasa mau berhenti. Kakinya lemas seketika. Napasnya tertahan. Air matanya mulai merebak, tapi sekuat tenaga ditahannya agar tidak tumpah. Sambil agak terbata – bata Naila berkata,”Emm...apa nggak ada persediaan lagi, Mbak ?”
“Sayangnya model itu sudah habis, Dik. Kalau model lain masih ada. Ini juga bagus,” bujuk penjaga lemari sambil mengambilkan jepit yang lain.
Naila sudah tidak mendengarkan. Hatinya sangat kecewa.. Jepit hadiah ulang tahun mama sudah dibeli orang lain. Padahal Naila sudah menabung susah payah..Ternyata usahanya selama ini sia – sia Dia tidak mungkin mendapatkan hadiah secantik itu lagi untuk mama. Cepat – cepat dia pamit pada penjaga lemari dan langsung minta Pak Maman untuk diantar pulang.
****
Ulang tahun mama tinggal beberapa hari lagi. Naila masih agak sedih kalau teringat hadiah jepit yang tidak jadi dibeli. Tapi apa mau dikata. Sekarang Naila masih mencari tahu hadiah lain yang mungkin mama inginkan.
Di kelas, Bu Santi sedang menerangkan tentang keterampilan merangkai manik – manik. Minggu kemarin, Bu Santi sudah menyuruh murid-muridnya untuk membawa manik – manik warna warni dan gunting. Hari Minggu kemarin, Naila memakai sebagian uang tabungannya untuk membeli alat praktek prakaryanya kali ini. Diantar mama, Naila memilih manik – manik yang disukainya.
Sambil menerangkan, Bu Santi berjalan dan mengambil bermacam-macam barang dari mejanya. Ada wadah yang diisi dengan plastik bening berisi manik – manik bulat dan persegi warna warni. Ada juga keranjang yang isinya pita, peniti, jarum, jepit, kawat halus, dan gunting.
‘Anak – anak, Ibu akan membagikan manik – manik ini untuk kalian.Tugas kalian, rangkai manik – manik ini dengan manik – manik yang kalian bawa dari rumah. Untuk merangkainya, bisa dengan bantuan kawat halus ini.” seru bu Santi dari depan kelas. “Manik – manik ini bisa dibuat menjadi berbagai macam barang, lanjut bu Santi. Contoh-contohnya, bisa kalian amati di meja guru.“
Dimulai dari bangku jajaran paling depan, delapan orang maju ke meja guru. Mereka mengambil manik – manik yang diberikan Bu Santi sambil melihat contoh – contoh rangkaian manik – manik.
Tiba giliran Naila untuk maju ke meja guru. Sambil menerima manik – manik dari Bu Santi, ia melihat contoh – contoh rangkaian. Wow...semuanya cantik – cantik. Ada gelang, kalung, bros, dan ...Naila terpana....jepit rambut !! Tidak persis seperti yang dilihatnya di supermarket, tapi jepit rambut dari rangkaian manik – manik ini juga mengeluarkan kilau – kilau pelangi saat terkena sinar matahari !! Mengingatkannya pada jepit biru bening yang ada di lemari kaca di supermarket.
“Bu, bagaimana cara membuat jepit ini?” tanya Naila penuh semangat baru.
“Hmm..coba lihat...untuk jepit ini, kamu membutuhkan alat tambahan berupa jepit hitam,” jawab bu Santi sambil mencari – cari sesuatu dari keranjangnya. Tak lama, dikeluarkannya dua buah jepit hitam panjang. “ Ibu akan memperagakannya setelah memperagakan cara membuat gelang dan kalung,” lanjutnya lagi.
Tak lama kemudian, dengan bimbingan Bu Santi, Naila sibuk memasukkan manik – manik ke kawat halus. Setelah itu, dia lilitkan kawat halus ke jepit hitam pemberian bu Santi. Pekerjaan itu dilakukan berulang – ulang. Tangannya terampil menata rangkaian manik – manik yang kini mulai terpasang kokoh pada jepit. Sambil melilit, Naila membayangkan jepit biru bening bertabur bebatuan yang dilihatnya di supermarket. “Mama, selamat ulang tahun, serunya dalam hati. “Semoga mama senang dengan hadiah jepit buatan Naila ini,” harapnya lagi.
Posted at 05:22 am by sangdenai
Permalink
Cerita-Cerita Pendek Ralian Bahar
BUNGA-BUNGA
Benar-benar saat terakhir, turun dari pesawat terbang menuju mobil jemputan, tak dijumpainya lagi perempuan itu. Mungkin dia sudah turun duluan, pikirnya. Sorot mata cerdas gadis 9 tahun pendiam berkulit putih amat dikenalnya itu, ia lihat terakhir kali dalam kokpit hercules yang menerbangkan mereka berpuluh-puluh tahun yang lalu. Setangkai anyelir mungil diselipkan di telinga kiri si gadis. Ungu.
Mereka duduk bersebelahan satu kelas di salah satu kelas 3 sebuah SD di kota kelahirannya. Laki-laki itu suka mencuri-curi pandang. Ada sepasang pipi bersih yang selalu ingin dikaguminya tiap pagi. Ada sepasang mata yang akan malu-malu menatap kembali, namun justru menyebabkan ia beralih melihat ke meja sambil berpura-pura menuliskan sesuatu di halaman-halaman buku tulis bergaris. Mereka tidak pernah bicara kecuali "pinjam penghapusnya" atau "terima kasih, ya" saat ia harus menghapus tulisan yang salah dan mengembalikan karet penghapus milik gadis itu. Laki-laki itu tak pernah mau membawa karet penghapus ke sekolah sepanjang tahun ajaran itu.
Seumur hidup aku memimpikannya, rupanya.
* * *
Seorang perempuan tua, 1,5 tahun yang lalu, membawakan seikat kembang putih susu—kemudian diketahuinya sebagai aster—mempercantik ruangan tempat ia dan suami perempuan tua itu dirawat. Kembang mulai layu, kembang segar baru dibawakan.
Aku merasa memiliki kekuatan untuk sembuh segera.
Sebulan kemudian suami perempuan yang lemah lembut itu meninggal dunia.
* * *
Dipaksanya pagi itu ibunya yang gila tanaman membeli sekuntum anyelir dan sekuntum aster. "Jangan! Jangan cuma sekuntum, Ma. Sekalian pohonnya. Biar aku merawatnya."
Indramayu, 1 Maret 2001
MUAK
Gadis itu dipaksa waktu untuk menetap di sebuah pulau. Jauh di tengah lautan. Tidak ada yang tahu sampai berapa lama, kecuali waktu itu sendiri. Dan waktu tidak ingin berbagi.
Aku – tak ada yang mampu memaksa meninggalkan pulau ini. Ibu sekali pun. (Namun terus saja beliau membujukku). Bahkan waktu. (Atau setidaknya saat ini waktu tidak bisa berbuat apa-apa). Tanah ini sudah terlalu banyak melahirkan gadis-gadis menarik. He-he-he! Aku sangat kerasan di sini. Tapi nanti akan tiba saatnya kutinggalkan semuanya dengan tidak menoleh sedetik pun ke belakang.
Telepon di kamarku berdering nyaring. Aku terbangun. Hari sudah sangat larut (mungkin inilah tengah malam buta itu). Ribuan kilometer tiada berarti. Aku bilang padanya: "Anda tidak harus memaksakan diri untuk ngobrol dengan seseorang, siapa pun – pada jam-jam sepi – kalau Anda sendiri tidak tahu pada siapa sebetulnya Anda ingin sekali bicara." Suaraku terdengar kering dan berat. Tercekat. Dia menggumamkan sesuatu. Tidak jelas. Mungkin menertawai suaraku.
Gadis aneh. Telepon yang bergagang sangat dingin. Sedingin es krim. Suara sendiri yang menyebalkan.
Tidak pernah aku merasa muak seperti sekarang ini. Tidak pernah.
Palembang, 14 September 1999
DI KUBURAN
"Dahsyat!" jawab Diani, gadisku. Aku bertanya apa yang dirasakan bibirnya – mengunyah sebutir permen. Paling lama ia hidup dua tahun lagi. (Perkiraan dokter! Tapi apa sih yang pasti?) Apakah orang yang mau mati bertingkah begitu?
Malam itu kami melintasi sebuah tempat pemakaman umum. Kuburan menjadi sangat indah diterangi sinar lampu. Ya. Sinar lampu dari sepeda motor yang aku kendarai dengan sebelah tangan dan dia membonceng di belakang. Seekor anak anjing berlari lambat-lambat, matanya jadi biru, kukira kunang-kunang terbang merendah.
Nisan-nisan tegak kaku menyiratkan statistik kematian. "Angka Mortalitas", aku teringat salah satu kuliahku di kampus bertahun-tahun yang lalu. Dan nilainya C.
Dipeluknya aku kuat-kuat. Mulutnya menyentuh telingaku. Aku bingung ia membisik. Jari-jarinya aku cium pelan-pelan. "Antarkan aku pulang. Aku mau istirahat. Tidak akan aku temui lagi kalian, semua teman-temanku, juga kau, mulai sekarang."
Palembang, 6 Oktober 2000
PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI
Baginya, perempuan itu indah. Seperti hidup. Ia suka merasa dekat dengan perempuan. Siapa saja. Membahagiakan bukan jika pagi-pagi sekali terbangun karena dering telepon dan ketika diangkat sebuah suara yang amat dikenal namun telah cukup lama tak didengar, di ujung saluran berkata, "Halo. Baru bangun, ya? Masih ingat suara aku nggak? Aku lagi di sini. Ketemu, dong?!"
"Oo, kamu," ia menjawab setelah memastikan yang di ujung sana adalah pasangan selingkuhnya yang sekarang menetap di kota lain. "Aku kira siapa. Iya, aku baru bangun. Boleh! Mau ketemu dimana?"
Begitulah. Ia sering merindukan kejadian-kejadian begini. Apa yang terjadi belakangan menurutnya tidaklah terlalu penting. Mungkin saja mereka bertemu di bioskop. Mungkin di restoran. Mungkin di perempatan jalan. Semua itu tidak direncanakan. Meskipun mereka berjanji bertemu di suatu tempat, belum tentu mereka akan bertemu di tempat yang disepakati. Bisa saja dalam perjalanan ke tempat yang dituju. Mungkin di neraka atau surga. Bisa saja, bukan? Toh kemungkinan selalu saja tetap ada.
Laki-laki pun begitu adanya. Ia memandang laki-laki sebagai teman yang paling tepat untuk membicarakan perempuan. Lebih mendetil. Sehingga ia jarang menolak untuk diskusi dengan teman laki-laki lain. Mereka lebih terbuka. Tidak ada yang disembunyikan.
Pernah suatu malam, ia baru saja kembali ke rumah setelah dua hari tidak pulang dan ia merasa harus tidur, namun telepon di kamarnya berdering, beberapa temannya sedang dalam perjalanan menuju rumahnya, menjemputnya, untuk kemudian mengajak cerita-cerita. Ia menyanggupi. Sulit untuk menolaknya. Lalu mereka berdiskusi enam jam lebih, berhenti ketika hari memasuki subuh. Ia bisa belajar banyak tentang bagaimana mengerti perempuan. Gabungan gaya yang selalu dipakainya dan sedikit cara laki-laki lain, itu yang sedang coba dimengerti perasaannya.
Palembang, 20,21,22,23 Oktober 1998
MENIK (PEREMPUAN YANG MEMUJA LAMPU-LAMPU)
Menik senang sekali memperhatikan lampu-lampu itu. Berbinar-binar matanya memantulkan cahaya jika dia sedang memandanginya seperti sekarang ini. Kebahagiaan juga kesedihan memancar dari sana. Sekaligus.
Tiap kali kencan malam hari bersama Adit, dia selalu meminta laki-laki itu untuk bersedia mengantarkannya ke pinggiran kota, menuju lokasi sebuah kilang minyak milik pemerintah yang jaraknya 14 km dari pusat kota. Katanya dengan manja, "Mas Adit! Kita lihat lampu-lampu kilang lagi, yuk!"
Ada ribuan lampu-lampu di kilang itu. Terang sekali. Putih. Kuning kemerahan. Berkilau. Seperti jutaan bintang yang disusun berdekatan di satu langit. Juga ada yang berkedap-kedip. Seperti kunang-kunang sedang terbang. Bintang dan kunang-kunang. Menik suka perpaduan itu. "Jika bintang-bintang itu berdekatan letaknya, tentu bintang-bintang, planet-planet, satelit-satelit, akan saling bertabrakan karena sempitnya orbit. Atau yang terburuk, tidak akan mungkin ada galaksi untuk benda-benda angkasa itu. Tidak akan ada kehidupan. Tidak akan ada saya. Tidak akan ada Mas Adit," sering Menik berpikiran begitu. "Tata letak yang sempurna. Itulah hebatnya Tuhan. Sungguh Tuhan maha bijaksana."
Menik bekerja sebagai perawat di rumah sakit. Dia kenal Adit 9 bulan yang lalu karena Adit sering menunggui mamanya yang sedang diopname. Menik salah satu perawat yang ditugaskan mengawasi kesehatan mamanya Adit.
Setelah berkenalan dan mamanya sembuh, Adit jadi sering datang ke tempat kosnya. (Menik hidup sendiri di kota. Ayahnya menetap di desa. Ibunya – yang sering mencubitnya sampai badannya biru-biru jika Menik dianggapnya nakal, meninggal dunia saat dia baru berumur 4 tahun). Mereka sering diskusi tentang banyak hal. Biasanya diskusi itu ditutup dengan kunjungan ke kilang.
Menik tahu Adit selalu memperhatikan tingkahnya kala dia sedang mengagumi indahnya lampu-lampu. Selalu kaki-kakinya dinaikkan ke atas jok mobil dan mendekapnya sekuat tenaga hingga dia bisa mencium kedua lututnya. Tapi Adit tidak pernah bertanya kenapa Menik menyukai lampu-lampu. Menik sangat berterima kasih untuk itu. Kadang tangisnya nyaris pecah karena sedih (namun sering, lebih karena bahagia). Menik berusaha keras menahannya, harus digigitnya bibirnya sampai berdarah. Malu jika ketahuan Adit dia menangis.
Kalau suatu saat Adit menanyakannya juga, Menik sudah mempersiapkan jawaban. Dengan suara selembut mungkin dia akan bilang, "Mas Adit, saya ini phobia kegelapan. Ndak bisa tidur kalau lampu dimatikan. Saya menyukai terang, Mas. Mencintai sinar. Atau cahaya. Saya memuja lampu-lampu." Dan memang itulah adanya.
Di kamar orang tuanya peristiwa itu terjadi 21 tahun lalu: dia melihat bayangan seseorang menghantamkan kapak yang sering dipakai untuk membelah-belah kayu buat masak, ke tubuh ibu. Semua hanya bayang-bayang, karena lampu yang dimiliki rumah mereka cuma ada satu, di ruang tengah. Namun dia bisa pastikan itu adalah bayang-bayang ayah meski dia masih sangat kecil pada saat itu. Karena dia sangat kenal ayahnya. Karena dia sangat mencintai beliau.
Kepada Adit, Menik tidak akan pernah mau menceritakannya. Tidak akan pernah, janjinya.
Indramayu, 15 Mei 2002
Posted at 04:52 am by sangdenai
Permalink
Puisi-Puisi Dwipta Jingga
Persetubuhan
Butiran hujan tikamkan tubuhnya pada tubuhku
Dan aku masuki tubuh butiran hujan
Butiran itu turun perlahan sentuh tanah
Tanah menggeliat perlahan
Terkejut dirinya atas kehadiran butiran hujan sentuh tubuhnya
Dilihatnya butiran hujan memegang lembut tubuhnya
Tanah membuka tangannya sambut butiran hujan
Dia peluk butiran hujan kekasih abadinya
Butiran hujan merasuk lembut ke dalam tanah
Melesak begitu dalam
Masuki semua ruang tubuh tanah yang terbuka untuknya
Tubuh tanah dan tubuh butiran hujan bertemu
Bersenyawa dalam persetubuhan abadi
Menyatu dalam kerinduan yang tak lekang
Desah butiran hujan
Erangan tanah
Alunkan irama jiwa
Butiran hujan alirkan hidup dalam tubuh tanah
Aku menyaksikannya, akulah yang menyetubuhi tanah
Akulah yang menjelma butiran yang hujan yang temui tanah
Akulah saksi persetubuhan mereka
Karena aku mencari persetubuhan sejati
Maka ku temui butiran hujan
Meminta ijin masuki tubuhnya
Di sinilah aku saat ini, rasuki tubuh butiran hujan temui tanah
Dan tlah kutemukan persetubuhan sejati
Persenyawaan abadi
Persetubuhan tanah dan butiran hujan
21/03/04
04:33 pm
Tak perlu Bertanya
Jika perbedaan suatu hal yang wajar
Mungkin kita akan ada diantara mereka
Saling berbagi warna yang tak mereka punya
Tak harus dipakai tapi hanya untuk diterima
Hanya untuk mengetahui dan menyadari bahwa kita memang ada
Tak perlu peluk cium dan pengakuan gegap gempita
Hanya anggukan kepala yang kita pinta
Biarkan kita hadir dan mengada
Biakkan rasa yang memang kita punya
Jadikan kita ada diantara mereka
Tapi inilah hidup yang tak pernah berpihak pada kita
Berada di garis tepi dan tak pernah bisa menepi
Pindahkan garis buat kita makin tersingkir
Menjadi apapun di mata mereka kita tetaplah nista
Kemanapun kita berjalan tetaplah dosa di mata mereka
Pada diri kita berpegang
Pada urat darah kita bertopang
Tak usah mengeluh atau mengaduh
Karena mereka akan tetap menuduh
Guratkan noda di dada dan jidat kita
Bahwa kaum lesbian adalah kaum pendosa
Tak perlu bertanya lagi di mana kita
Karena jawab tak pernah ada buat kita
Berdiri kita ditepian dermaga
Siapakan perahu yang kan bawa kita pada sebuah rimba
12:48 pm
26/10/03
Kita dalam Tanya
Seringkali kita ingkari apa yang selama ini kita rasakan
Kita tak tau hingga kapan harus kita bertahan sementara apa yang kita temukan dalam perasaan ini begitu menikam
Kitalah manusia yang tak pernah mereka pandang
Hingga kapan bisa kita tahan apa yang selama ini sudah kita rasakan
Hadirnya rasa dalam bayang tak juga usai sementara keadaan terkadang buat kita tak bertahan
Setiap cercaan coba kita tahan, menelan dan menelan yang bisa kita lakukan, tapi sampai kapan kita harus bertahan?
Haruskah mengalah melulu jadi pertahanan?
Salahkah hidup yang kita jalankan?
Dosakah kita dengan semua yang kita rasakan?
Darimanakah sebenarnya rasa ini datang?
Rasa ini datang perlahan, hingga kita pun tak tau mulai kapan
Tapi darimanakah rasa ini datang?
DariNyakah semua ini datang?
Apakah kita harus tenggelam karena menahan perasaan
Sementara getar ini melulu tikam kita dari dalam
Haruskah kita tetap mendekam sementara orang terus mengecam?
Hingga kapan, sampai kapan?
Kapan hidup pandang kita dari depan?
Atau kita memang harus selalu di persimpangan?
Hanya tanya dan tanya terucap
Berbusa rasanya mulut kita
Tapi tak ada telinga yang dengarkan kita
Kita memang dipandang tak pernah ada
Karena kita manusia-manusia pendosa di mata mereka
Adilkah mereka pandang kita
Makhluk yang bernama keadilan memang tak ada buat kita
Kita hanya berpegang pada apa yang kita punya
Adil di mata mereka hanya singkirkan kita ke dalam neraka
Kita hanya manusia-manusia pendosa di mata mereka
DariMukah semua ini datang?
Lalu mengapa mereka tak juga mau paham?
Lantas ingin segera buang kita dalam kubangan
Bila bukan dariMu semua ini datang
Lalu mengapa semua ini kita rasakan?
11:42 pm
22/10/03
GUGURAN DAUN
Jatuh satu demi satu, melayang perlahan tertiup angin semilir yang begitu lembut, mengalir pelan sangat pelan
Adakah beban yang ditanggung?
Atau semua tugas yang diemban telah usai?
Begitu tenang, melayang satu demi satu
Lembaran-lembaran yang kemudian tersapu angin
Ada kelegaan terbias pada telaga
Pancarkan bayang dari gugurannya
Getaran perdengarkan nada merdu dalam ingatan
Tassh… tassh… tassh… tassh…
Sepuluh… seratus… seribu… daun luruh pelan di hadapan
Jalin nada penyerahan kala tugas suci telah usai
Kembali pada kesunyian, menjadi kering terbawa angin
Pasrahkan diri, menjadi satu pada hidup yang inginkan diri
Partere, 250603
09.20 am
PEREMPUAN DI MATA LAKI-LAKI
Gerak tubuhnya, tatapan matanya membuatku tersadar
Inilah makhluk yang bernama perempuan
Manusia yang terkadang tak kusadari eksistensinya
Sosok yang selamanya selalu menjadi mitos
Sosok yang selalu larut dalam gumpalan perasaan
Manusia yang terlalu intuitif
Kini aku melihatnya berjalan, bergerak bersama angin
Aku tatap dia
Ada yang bergetar dalam jiwaku
Inikah puncak ciptaan Tuhan?
Ingin mendekat
Ingin mendekap
Ingin menjamah
Ingin mencium harum tubuhnya
Kuisap dalam, kusentuh, kubawa
Ku ingin memilikinya
Hei, dia lari!
Aku mengejarnya
Tak terkejar
Dia bergerak menjauh
Dia bergerak!
Tunggu aku perempuan!
Tunggu aku!
Aku manusia dengan sembilan pikiran
Aku laki-laki
Aku pemilik satu tulang rusuk yang kau ambil
Jangan pergi!
Kau milikku perempuan!
Kau terhenti seketika, menatapku tajam
Kau manusia dengan sembilan perasaan
Kau yang tercipta dari satu tulang rusukku
Kenapa kau menatapku dengan tusukan pandangmu?
Apa yang ada di kepalamu?
Apakah kau menolak aku miliki?
Sadarlah kau akan tetap jadi milikku
Secepat apapun kau lari, sejauh apapun kau pergi
Kau akan tetap jadi milikku
Jangan tatap aku seperti itu perempuan!
Tundukkan pandangmu!
Aku rajamu, kau hambaku!
Hei, mau kemana kau?!
Kembali perempuan!
Kembali kau pencuri tulang rusukku!
24.11.02
Posted at 04:41 am by sangdenai
Permalink
Emak
Cintaku pada emak
tidak sama dengan cinta Oedipus pada ibunya
Posted at 04:36 am by sangdenai
Permalink
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|