SUNGAI CIROMED
Cerita ini berawal dari kunjungan pura-pura, yang mengaku dirinya LSM lingkungan hidup sekitar awal tahun dua ribu, menyimak ceritanya berarti menyimak perjalanannya:
Lalu sungai yang kami pilih adalah sungai Ciromed. Sungai itu terletak di bawah telapak kaki Gunung Magenit yang tingginya tiga ribu kali tinggi tubuh kamu. Sungai itu selalu mengalir sepanjang hari: malam, pagi, siang dan petang, menghidupi selama ribuan tahun manusia-manusia di sekitarnya.
Di situ, di sungai yang membelah dua kampung, berhasil dibuat peraturan secara turun temurun: mengambil air untuk minum dan keperluan lainnya di bagian paling hulu, mandi laki-laki setelahnya, mandi perempuan di bagian hilir, dan memancing ikan di muara. Sedangkan untuk urusan peturasan dan berak dibuatkan sepetak lahan di masing-masing pekarangan belakang rumah, dikelilingi pagar bambu yang rapat hanya sekedar penutup aurat. Sepetak lahan itu rata-rata mereka pakai banyak pada pagi hari ketika perut mulai mengkerut. Mereka akan berjongkok di sana di atas batang-batang bambu yang berlajur dan tersusun rapi dan menyisakan sekotak lubang untuk muntahan dari anus mereka [Mereka menyebutnya cubluk, karena seirama dengan suara taik ketika jatuh menimpa tanah yang digali kira-kira tiga meter di atas mereka jongkok].
***
Waktu pertama kali pasta gigi, sabun mandi, sabun colek masuk ke kampung itu, para tetua langsung berkumpul di balai mufakat kampung. Beradu kerut kening. Beradu asap mengepul-ngepul. Dan anehnya tak ada satupun rokok terkini yang mereka hisap. Semua lintingan. Terbuat dari daun pohon kawung ditambah sedikit bubuk tembakau dan jilatan api. Lalu asapnya mereka hisap sendiri dan hanya bagi mereka, bagi sesama pelinting saja. Segan mereka menghisap di dalam rumah mereka. Mereka cukup tahu asap lintingan ini tak baik untuk benih-benih mereka. Di kalangan mereka, melinting dipercaya sebagai tanda kedewasaan dan keeklusivitasan seseorang laki-laki dewasa.
Sementara asap membentuk kabut pekat, salah seorang tetua dari kampung sebelah berteriak:
“Melamun buat pikiran kita karatan!”
“Siapa yang melamun…Kang Sukri?, Tingkat berpikir saya setara dengan jumlah lintingan yang saya hisap. Bersabarlah,…saya sedang berpikir bukan melamun, …mungkin asap lintinganku yang kau lihat melamun!”
“Tenang baraya,….tenang, memang waktu kita sudah mepet. Hari sudah menggeser-geser kita menuju senja. Keputusan belum dapat, sementara tukang wangi-wangian palsu (mereka sebut begitu untuk pasta gigi, sabun mandi dan sabun colek) itu sudah menggedor-gedor gerbang kampung kita. Bahkan beberapa kali hilir mudik di jembatan akar sungai leluhur kita, Sungai Ciromed” kata tetua bijak yang usianya belum lagi tua.
“Ah, eureka!…uppsss, maaf…saya dapat ide…saya dapat ide Akang-akang, Bapak-bapak”, teriak girang manusia separuh baya, satu-satunya sarjana lulusan kimia di sebuah universitas pemerintah, anak sang Kepala Sungai, “Kalau pasta gigi dan teman-temannya dibiarkan masuk, bukan tak mungkin akan mengundang detergen, dan itu lebih berbahaya untuk sungai kita, Akang-akang, Bapak-bapak”
“Bahaya apa yang kita takutkan, Din?”
“Ikan-ikan di muara akan mati, dan bukan tak mungkin sungai kita jadi kotor, tak bisa dipakai mandi. Seperti sungai-sungai di desa tetangga kita”
Kerut mereka perlahan jadi garis-garis lurus lalu meregang lagi jadi kening bayi. Setelah ditimbang-timbang untung ruginya, baik buruknya maka disepakatilah secara mufakat: “Dilarang Memakai WANGI-WANGIAN PALSU dari Kota!” Bila ada yang ketahuan memakainya akan diusir dari kampung.
Esoknya papan-papan deklarasi itu dipampang di setiap 15 meter aliran sungai. Dan para perempuan dan lelaki masih terbuai dengan rendaman air sungai yang segar bermandikan daun palanding yang digosok-gosok dengan batu kali. Sehari dua kali. Dan itu rutin.
Mereka pulang berduyun-duyun. Yang satu menunggu yang lainnya. Dalam perjalanan pulang mandi, tak jarang rombongan laki-laki berpapasan dengan para gadis dan saling menggoda. Sepulang mereka mandi sore itu mereka melewati gubuk kuwu. Teronggok beberapa pasang benda yang aneh di mata mereka.
“Hei, itu namanya sepatu” kata seorang perempuan nyinyir pada temannya.
“Ohhhhhh…..”
Di belakang, Nurdin yang juga baru mandi, sengaja menahan-nahan langkahnya hingga ia tertinggal jauh dari rombongan para pemandi. Ia duduk di bale-bale gubuk kuwu, bermaksud mengaso, tepat di dekat alas kaki yang bernama sepatu itu. Kupingnya diarahkan pada bilik-bilik. Sampai terdengar jelas, ada suara yang tak asing baginya: pasti mahasiswa!
“Din, jangan kau biasakan kelakuanmu itu!” teriak suara berat dari dalam.
“Emh….Eeee….Uppppsss….Saya, Kuwu”
“Masuk sini!” teriak Kuwu satu lagi.
“Eeeee….Upsss….Baikk, Kuwu”
Nurdin membuka sandalnya dan menaruh handuknya teronggok di tepi pintu.
“Tutup lagi pintunya, Din!” tubuh kedua Kuwu masih menghadap tetamu, “Kawan-kawan muda, ini Nurdin, anak Kepala Sungai. Din, ini kukenalkan kawan-kawan lebih muda darimu. Katanya dari LSM Peduli Sungai”
Mereka lalu berjabatan tangan.
“Wildun, biasa dipanggil Wildy”
“Heru”
“Gugum”
“Aat”
“Rondi”
“Maaf siapa namanya?”
“R-o n-d-i…”
Setiap jabatan erat Nurdin membuat mata para mahasiswa itu terpejam sesaat, merasakan dingin yang begitu segar.
“Dinar”
“Upsss…Maaf, kawan-kawan, saya baru mandi di sungai” sela Nurdin ketika tangan perempuan belia itu terakhir menyentuhnya.
“Presentasikanlah keinginan kalian. Kalian tentunya di kampus biasa pakai OHP, bukan? Nah, sekarang pakai saja keterampilan mulut dan bahasa tubuh kalian” gagas Kuwu dari seberang sungai.
Dari presentasi itu baru kuingat-ingat kembali pelajaranku sewaktu kuliah dulu. Dan akulah yang mewakili kawan-kawan. Aku berbicara tentang BOD, COD,…Aku tahu Nurdin lebih paham.
Setelah itu, mengapa kami pilih sungai Ciromed juga kami ungkapkan. Sungai Ciromed merupakan satu-satunya sungai di seluruh negeriku yang belum tercemar dari hulu sampai hilir. Kesegarannya dipercaya dapat menyaingi air zamzam. Para tikus kantor pemerintah berebutan meng-gandeng investor menjadikan Sungai Ciromed menjadi macam-macam komoditi: air kemasan, PLTA, bahan pencampur sirup, dan lain-lain. Sungai di kota-kota sudah pucat dan susah dikendalikan. Tiap hari, kata kawanku yang pernah kos di pinggir sungai, anak-anak disuruh orang tuanya membuang sampah ke sungai. Padahal berpuluh papan pengumuman lengkap dengan kata-kata berlabel hukum terpancang di setiap aliran sungai di tiap penggalan rukun tetangga. Katanya lagi, mereka bukan tak bisa membaca, tapi sudah terbiasa. Anak-anak muda tak mau jadi tukang sampah, kebanyakan pengais sampah adalah manusia-manusia tua renta yang berjiwa besar dan kalaupun ada anak muda, semata-mata alasannya karena terhimpit biaya di kota.
Setelah selesai silaturahim, Nurdin membawa kami menuju bantaran sungai. Sungai nampak seperti aliran nirwana. Jernih, batu-batu saling merayu. Memagutnya, mengajaknya bercanda dan tertawa. Sungai semakin mengalir sejauh mataku memandang.
“Cukup?”
“Cukup, Kak Nur” usik Dinar di tengah ketakjubanku memandangi sungai di matanya.
Petang semakin tergelincir, seperti hendak pulang ke rumah asalnya. Bergegas kami menuju kediaman Kepala Sungai, ayah Nurdin. Kami sepakat menginap di sana.
Malam begitu merayap. Nurdin masih asyik menggoda Dinar. Brengsek! Tak cukupkah aku menemanimu dalam perjalanan seharian kemarin, Dinar. Kau lupa pada guliran matamu yang mendelik entah tanda apa namanya. Lupakah kau, Dinar. L u p a a a k a h ……zzzzzzzzzzzz……….ZZZZZZZZZ.
Aku bermimpi buruk tentang Dinar. Dia diterkam seorang laki-laki hitam yang durjana. Tapi ketahuan akan memperkosa, aku seret dia dan kuseret ke pos ronda….
“Oi….bangunnnn…..Wil…..gawat!” hari masih gelap, nafas Rondi terengah-engah berkerudung kain sarung.
“Gawat…Den!”
“Sadar, Ron, …apanya yang gawat?” heranku, bangunkan nyawa dari tidurku.
“Pokoknya, gawat…anak-anak memang sudah keterlaluan”
“Dinar?...Dinar diperkosa?” aku bangunkan mimpi lagi, berharap itu bukan.
“Mimpi kamu! Ngaco!”
“Cerita dong, cerita, rugi nih saya belum selesai menyapu tangis Dinar” kenang mimpi tadi.
“Begini, Wil. Rupanya si Gugum belum tahu kalau di sini ada peraturan dilarang berak dan memakai bahan-bahan kimia di sungai. Tadi si Gugum kebelet pengen berak. Kurang ajar si Aat, sudah tahu malah nyuruh si Gugum berak di bagian paling hulu”
“Ah, Gugum…dasar anak rakus…kemarin baru saja buang taiknya di terminal”
“Cepetan, Wil…kejar si Gugum, sebentar lagi orang-orang kampung mau mengambil air minum. Aku takut sendirian”
“Dasar penakut!, itu tuh akibat terlalu sering nonton film-film takhayul di tivi brengsek itu!”
“Ayoh…Din…Din…Dinar….bangun!!!..mau ikut gak?”
Bertiga kami susuri sungai dengan satu lentera. Suara daun bambu riuh bangunkan bulu kuduk Rondi. Dinar dengan spontan menyergap pergelangan tanganku. Terima kasih, bambu!
Lamat-lamat terdengar orang-orang berbisik-bisik. Lalu berbicara dan bercengkerama. Api obor semakin jelas. Mereka hanya diperkenankan membawa air sepuluh jerigen. Selebihnya harus dapat izin dari dua Kuwu. Kami lewati mereka dan mereka mengirim senyum pada kami. Di antara senyum-senyum itu ada yang senyum aneh. Hey, itu bibir si Aat…dan si Heru! Kurang ajar!
“Sudah jangan hiraukan mereka!” bisik Dinar geram.
“Cepat nanti terlambat…!” suara Rondi mendorong punggungku.
Belum sepuluh langkah kami berjalan…orang-orang yang tersenyum tidak aneh itu berubah jadi umpatan dan teriakan…
“HEY… SIAPA YANG DI SANA?! DI SINI BUKAN TEMPAT TAIKMU!”
“AWASSSS….KAU YANG BERJONGKOK DI SANA TAK LAMA LAGI AKAN BERJONGKOK SELAMANYA!”
“TAHU RASA….KELUAR!”
Dan terbayang-bayanglah kedua wajah kawanku. Terbayang pula wajah Gugum, temanku yang paling gendut itu, nanti kalau mereka dapati kau sedang berjongkok, tubuhmu akan bertambah gendut, Gum…Kasihan benar anak itu…Tega amat! Tega! Sesama kawan!
Enam pasang kaki melangkah cepat. Bermaksud memburu Gugum dan menyembunyikannya dari amukan massa. Biar nanti yang aku lapor ke Kepala Sungai, lewat Dinar…
Suara kaki kami seperti ada yang mengikuti, tapi bukan enam pasang. Dua belas pasang lalu…dua puluh pasang, lima puluh,…seratus pasang!!! Berderap-derap mengibas-ngibas ilalang dan daun putri malu yang tajam. Suara mereka kudengar dari seberang sungai. Mereka dan kami berpacu waktu. Bergegas mencari seseorang pencemar. Kulihat, satu dua sabetan parang membabat pohon pisang. Pohon pisang itu runtuh dan terkulai jatuh pada pinggir sungai. Gugum…duh Gugum…tubuhmu bukan pisang, kan…
Langkah rombongan kecil kami lebih cepat. Jalan yang ditelusuri kiri kanan tegalan kebun ketela dan kacang.
“Dinar….Dinar….tunggu saya”
Seperti suara Nurdin.
Dasar. Yang dipanggilnya cuma Dinar. Kami berdua dianggap pohon ketela saja.
Sampailah kami pada mata air, tak satupun kudapat hidung Gugum. Nurdin menyibak aur kuning, barangkali Gugum ketakutan mendengar sorak suara orang-orang kampung yang marah. Nihil. Dibalik batu besar, tempat keluar mata air kuperiksa. Tak ada tubuh Gugum secuilpun.
Kulihat nyala obor dari seberang sungai tertahan pada satu titik. Suara girang dan tepuk tangan orang-orang terdengar riuh.
“Oooo….jadi kamu, pura-pura jadi mahasiswa, ternyata maling sungai”
“Itu suara Bapakku!” kata Nurdin.
“Bukan…bukan saya, Pak!” erang orang yang tertangkap basah itu.
“Maling mana ada yang ngaku, Pak Kepala, cepat bawa dia ke pos ronda!”
Terbayanglah wajah Gugum, temanku yang paling gendut itu, mereka sudah dapati kau habis berjongkok, tubuhmu akan bertambah gendut, Gum…Kasihan benar anak itu…Dan terbayang-bayanglah kedua wajah kawanku. Tega amat! Tega! Sesama kawan!
Sinar fajar menyentuh aliran sungai hingga keemasan. Tapi tidak di pos ronda itu. Suasananya pengap. Tak ada asap rokok. Tak ada anak-anak dan perempuan. Suara yang menghakimi cuma tiga: Bapaknya Nurdin, dan dua Kuwu. Yang lainnya berjejal menonton dan saling mengumpat geram. Saking berjejalnya yang kulihat adalah pentul kepala orang-orang yang merendah-meninggi berebut tontonan langka di kampung mereka.
Kami datang terlambat bersamaan dengan dua orang durjana itu, Aat dan Heru. Muka mereka masam dan kecut, dihantui perasaan bersalah.
“Iya…Pak, Maaf…saya dari kota. Sebenarnya saya mau berburu Surili” teriak penista sungai dari dalam.
“Kamu tahu Surili di sini sudah mati semua, sama bangsat-bangsat seperti kamu!” teriak suara Bapaknya Nurdin, perangainya jauh beda dengan anaknya.
“Siapa nama kamu, Jang?” tanya Kuwu dari sungai seberang menenangkan.
“Nama…saya….Eeee……”
“Namanya Aswin, Kuwu! KTP-nya dari Bandung” kata Bapaknya Nurdin setelah mencabut dompet dari pinggangnya.
Kami semua terhenyak. Jadi, Gugum…kemana Gugum? Wajah kami lega…tapi wajah kedua kawanku yang durjana itu terheran-heran dan semakin bersalah…
…
“Hey….lagi ngapain kalian?” suara yang mirip Gugum menyapa punggung Aat. Aat dan Heru berbalik seperti kilat, tetapi kalah cepat dengan kilat yang tersimpan di kepalan tangan Gugum.
Sekian
Sungai busuk, 12 April 2004
daun palanding = daun dari jenis petai-petaian. Buahnya biasa dipakai lalab.